[A.3.1.2 P0_7 A-6] Day 3: The pigs are slaughtered., [A.3.1.2 P0_7 A-6] Jour 3 : L'abattage des cochons (French), [A.3.1.2 P0_7 A-6] Hari ke 3: Babi-Babi Disembelih. (Indonesian)

Public

In the small hours, an invocation (tambuli) is performed by the burake who holds a spear planted in the ground and a phial full of blood. A veiled ‘officiated’ woman (tumbang), carried in on a stretcher, sits down on top of the platform in front of the house.

Au petit matin, a lieu une invocation (tambuli) prononcée par l’officiant burake qui tient une lance plantée dans la terre et une fiole remplie de sang. Une officiée voilée (tumbang), portée sur un brancard, est assise en haut de la plate-forme située devant la maison. (French)

Masih pagi-pagi sekali. Sebuah pemanjatan doa (tambuli) yang dilakukan oleh pemangku adat to burake. Pemangku adat ini memegang sebuang tombak yang ujung pegangannya tertancap dalam tanah dan sebuah tabung bambu yang penuh berisi darah. Seorang pelaksana adat perempuan berkerudung (tumbang), yang berada di atas sebuah tandu, duduk di atas sebuah menara yang terletak di depan rumah. (Indonesian)

Parent Collections (1)

Works (1)

Sort the listing of items  
List of items in this collection
  Title Inventory number Archival reference Date Added Visibility
 

In front of the house at Deri, at a bua’ kasalle, 1993. Ne’Lumbaa, sitting next to the pigs, performes the praise in honor of sandalwood (ma’tambuli). Contrast of tones, grace and the extreme facility of the singer who passes from the spoken to the sung with astonishingly expressive ease., Devant la maison à Deri, lors du rituel bua' kasalle, 1993. À l'aube, Ne' Lumbaa, assis à côté des cochons, prononce la louange au bois de santal (ma'tambuli). Assis devant l'arbre à viande, l'officiant burake tient une lance plantée à terre dans une main, et une fiole remplie de sang dans l'autre main, il s'adresse aux divinités et raconte un récit en prose. Le timbre du soliste balance entre tension et détente, d'une psalmodie tranchante et acérée, recto tono, au langage parlé, naturel et désinvolte. L'intérêt de l'exemple réside notamment dans le contraste des tons, grâce à la grande désinvolture du chanteur qui passe du parlé au chanté avec une souplesse expressive. (French), Depan rumah di Deri, dalam suatu pesta bua’, 1993. Ne’ Lumbaa, yang duduk dekat babi-babi, melontarkan syair-syair pujian untuk pohon cendana (ma’tambuli). Duduk di depan tiang tempat persembahan, pemangku adat to burake berpegang pada tombak yang ditancapkan ke tanah, dan seruas bambu berisi darah di tangan yang lain, ia berbicara kepada para dewa dengan menceritakan sebuah kisah berbentuk prosa. Getaran suara solis berayun-ayun antara suara tegang dan kendur, dari suatu mantra yang tegas dan tajam, dalam satu nada, ke bahasa lisan, sehari-hari, dan santai. Hal yang menarik dari contoh ini terletak khususnya pada perbedaan gaya, berkat sikap yang sangat santai penyanyi yang beralih dari gaya lisan ke cara bernyanyi dengan suatu kelenturan ekspresif. (Indonesian)

This work also belongs to: [A.3.1.2 P0_7 A-7] Sacrifice of pigs., [A.3.1.2 P0_7 A-7] Sacrifice des cochons (French), [A.3.1.2 P0_7 A-7] Penyembelihan Babi-Babi. (Indonesian), [A.3.1.6 P0_30 A-5] Chanted/spoken., [A.3.1.6 P0_30 A-5] Psalmodié-parlé (French), [A.3.1.6 P0_30 A-5] Dalam bentuk mantra dan lisan. (Indonesian), [A.3.1.2 P0_3] Sources used for the study., [A.3.1.2 P0_3] Sources de l'étude (French), [A.3.1.2 P0_3] Sumber Data Penelitian (Indonesian), [A.3.1.2 P0_5 A-1] The living house., [A.3.1.2 P0_5 A-1] Rumah Hidup. (Indonesian), [A.3.1.2 P0_5 A-1] La maison vivante (French), [A.1.2.2 P0_12 A-4] Social and ritual center., [A.1.2.2 P0_12 A-4] Pusat Sosial dan Ritual. (Indonesian), [A.1.2.2 P0_12 A-4] Centre social et rituel (French)
2022-06-13 Public