[A.3.2.2 P0_42 A-3] Dans le Sud, le bugi' est dansé en ronde et en rangs (vidéo)., [A.3.2.2 P0_42 A-3] Di bagian selatan, Bugi’ dapat ditarikan dalam lingkaran maupun sambil berjejer (VIDEO). (indonésien), [A.3.2.2 P0_42 A-3] VIDEO: In the south, the bugi’ is danced in a circle and in rows. (anglais)

Public

Au sud de Rantepao, le bugi’ est dansé en ronde (bugi’ lepong, ondo’ pua). La ronde peut être organisée en antiphonie : un « souffleur » lance le vers qui sera chanté et décomposé par quatre groupes en alternance, ponctué par le chœur qui vocalise les paroles dans un ambitus restreint. L’unité de la phrase est reconstituée par l’assemblage de tous les soli. S’ils sont en cercle (bugi’ dilepong « bugi’ en rond » ou nondo pua « grand saut »), les chanteurs se tiennent par la main (sitoe lima), le cercle tourne de gauche à droite. Quelquefois, il peut y avoir deux cercles, l’un ouvert (bugi’ dileko’), l’autre fermé (bugi’ ditutu’), ou bien un cercle assis (bugi’ dio’koran) et l’autre debout (bugi’ dibendanan).

South of Rantepao, the bugi’ is danced in a circle (bugi’ lepong, ondo' pua). The singers may be organized in antiphony: a ‘prompter’ launches the line, which will be sung and broken up by four groups in turn, punctuated by the chorus who vocalize the words within a restricted ambitus. The unity of the phrase is reconstituted by assembling all the solos. If they are in a circle (bugi’ dilepong ‘bugi’ in a round’ or nondo pua ‘great leap’), the singers hold one another's hands (sitoe lima), and the circle turns from left to right. There can sometimes be two circles, one open (bugi’ dileko'), the other closed; or one sitting (bugi’ dio’koran) and the other standing. (anglais)

Di bagian selatan Rantepao, bugi’ ditarikan dalam lingkaran (Bugi’ lepong, ondo pua). Tarian melingkar dapat dilaksanakan dalam antiphony: seorang “pembisik” melontarkan sajaknya yang akan dinyanyikan dan diuraikan oleh empat kelompok secara silih-berganti, yang diberi tekanan oleh kor yang menyanyikan kata-katanya dalam suatu jangkauan suara yang terbatas. Kesatuan kalimat disusun kembali melalui penyatuan seluruh penyanyi solo. Jika mereka berada dalam lingkaran (bugi’ dilepong, “bugi’ dalam lingkaran”, atau nondo pua, “melompat-lompat tinggi”), para penyanyi saling berpegangan tangan (sitoe lima), dengan lingkaran bergerak dari kiri ke kanan. Adakalanya, dapat pula terlaksana dalam bentuk dua lingkaran: yang pertama, terbuka (bugi’ dileko’) sedangkan yang lainnya tertutup, atau dalam bentuk sebuah lingkaran duduk (bugi’ dio’koran), sedangkan yang lainnya berdiri. (indonésien)

Collections parentes (1)