[A.2.1.4 P0_16] Pause entre les deux fêtes funéraires., [A.2.1.4 P0_16] The intermediary period constitutes a pause between the two funeral celebrations. (anglais), [A.2.1.4 P0_16] Rentang waktu antara kedua upacara pemakaman tersebut merupakan kesempatan untuk istirahat. (indonésien)

Public

À la fin de la première fête, les habits des proches du défunt sont teints en noir (hagiographie ossoran badong, vers 784). Pendant la période intermédiaire entre les deux fêtes, qui peut durer de quelques jours à plusieurs années, la musique est interdite. Les enfants s’affairent à marchander le plus grand nombre de buffles au meilleur prix en vue de la fête finale (ossoran badong, vers 808). Le cadavre reste suspendu au plafond de la maison (vers 828-829).

At the end of the first funeral celebration, the clothes of the deceased’s kin are dyed black (ossoran badong, line 784). During the intermediary period between the two celebrations – which can last from a few days to several years – , music is not allowed. The children go about bargaining for the largest number of buffaloes, at the best price for the sake of the final celebration (line 808). The corpse stays hanging from the ceiling of the house (lines 828, 829). (anglais)

Pada akhir upacara pemakaman pertama, pakaian dari keluarga dekat mendiang dicelupkan dalam warna hitam (Cf. ossoran badong, lihat 784). Selama jeda, antara kedua pesta tersebut, masa yang dapat berlangsung selama mulai dari beberapa hari sampai puluhan tahun, pertunjukan musik adalah sesuatu yang terlarang. Putra-putri mendiang, berusaha untuk memperoleh kerbau sebanyak mungkin, dengan harga yang semurah mungkin untuk upacara pemakaman kedua (lihat 808). Jenazah tetap berada di atas rumah (lihat 828, 829). (indonésien)

Collections parentes (1)

Sous-collections (1)